Google

Monday, December 31, 2007

Arsitek Jakarta | Arsitek Depok | Arsitek Bekasi | Arsitek Tangerang

Arsitek

Arsitek Jakarta | Arsitek Depok | Arsitek Bekasi | Arsitek Tangerang

Pekerjaan Rumit dan Siap Tak Dapat Order
Arsitek. Profesi ini tak asing lagi di telinga masyarakat. Kebanyakan anak kecil pun selalu menjawab ingin menjadi insinyur ketika ditanya mengenai cita-citanya saat sudah besar nanti. Namun, apa sebenarnya pekerjaan dari seorang insinyur arsitektur itu?

Menurut Budi Sukada, ketua Ikatan Arsitek Indonesia, tugas seorang arsitek merancang segala sesuatu yang berkaitan dengan rancang bangunan. Sang arsitek berkewajiban merancang gambar hingga akhirnya menjadi sebuah sosok bangunan. ''Di sana sudah termasuk proses pengawasan hingga bangunan jadi,'' tandas Budi.

Lebih rinci, menurut seorang arsitek freelance, Ayi Achmad, tugas arsitek bermula dari permintaan pesanan seorang klien. Dari sana, sang arsitek mulai mengonsep keinginan klien dalam sebuah rancangan yang didasarkan pada standarisasi ilmu arsitektur. ''Para arsitek merancang pola yang didasarkan pada permintaan klien. Kepada klien, mereka memberikan masukan-masukan dari segi teori,'' ucap Ayi. ''Misalkan klien menginginkan sebuah rumah di kawasan pinggiran bukit, maka seorang arsitek akan memberikan saran mengenai bentuk rumah yang sesuai untuk lokasi perbukitan.''

Tugas arsitek masih berlanjut ketika hasil rancangannya disetujui oleh klien. Sebuah kontrak kerja pun dibuat untuk memvisualisasikan rancangan itu hingga menjadi sebuah bangunan utuh. Pada kontrak tersebut tertera segala seluk beluk aturan main mengenai proses pembuatan bangunan. ''Jika dalam kontrak, klien menginginkan kita yang mengerjakannya, maka kita bertanggung jawab dalam proses pembuatan dan pengawasan hingga menjadi sebuah bangunan,'' jelas Ayi. ''Namun apabila tidak diminta, tugas seorang arsitek hanya sampai pada merancang bangunan.''

Pekerjaan seorang arsitek terbilang rumit dan panjang. Karena itu, tak heran untuk mendapatkan gelar arsitek, seseorang harus menempuh jalur pendidikan formal yang juga cukup panjang. Sang calon arsitek harus menempuh jenjang pendidikan strata satu (S-1) jurusan teknik arsitektur. ''Setahu saya, profesi arsitek itu hanya dapat diperoleh melalui pendidikan formal. Soalnya, ada science dan sejarah arsitektur yang hanya bisa diperoleh melalui pendidikan formal,'' tandas Ayi yang lulus dari jurusan teknik arsitektur YAI, Jakarta.

Mungkinkah otodidak? Ayi berpendapat, pilihan otodidak sangat sulit ditempuh karena pengetahuan sejarah dan konsep arsitektur hanya dapat diperoleh melalui bangku kuliah.

Sementara itu Budi memiliki pendapat yang sedikit berbeda. Menurutnya, seseorang dapat saja menjadi arsitek melalui proses otodidak. Caranya, pertama-tama dia mesti memilih bekerja pada perusahaan kontraktor atau konsultan arsitektur. Dari sana, sebagai langkah awal, sang calon arsitek dapat mulai merintis karier sebagai tukang gambar. Selanjutnya dia dapat meneruskan langkah kariernya menjadi pengawas lapangan, berlanjut menjadi asisten arsitek, dan akhirnya menjadi arsitek.

''Proses otodidak tersebut memakan waktu puluhan tahun. Lagi pula dasar teoritis arsitektur tetap saja tak dapat dikuasai oleh arsitek tersebut sehingga dia tak akan mampu merancang bangunan yang tinggi atau bangunan yang multifungsi,'' ungkap Budi, lulusan jurusan teknik arsitektur Universitas Indonesia.

Dua jalur telah terbuka. Anda yang berhasrat menjadi arsitek, tinggal menentukan jalan mana yang akan dipilih. Tentunya, jika sudah menjadi arsitek, Anda siap memanen lembaran-lembaran rupiah.

Seorang arsitek baru lulus, kata Budi, memiliki penghasilan rata-rata sebesar Rp 800 ribu per bulan. Angka nominal tersebut akan semakin bertambah apabila sang arsitek tersebut semakin banyak memiliki pengalaman. ''Bagi arsitek yang telah berpengalaman, bayarannya dapat mencapai sekitar Rp 35 ribu per jam,'' imbuh Budi.

Menurut Ayi, gaji seorang arsitek pemula di bawah Rp 1.000.000, yakni sekitar Rp 800 ribu. Arsitek yang berpengalaman dapat memperoleh gaji antara Rp 2.000.000-an hingga Rp 5.000.000-an. ''Namun ada pula yang digaji berdasarkan bayaran per proyek, bukan bayaran per bulan,'' ucap Ayi. ''Setiap arsitek mendapat penghasilan sekitar satu persen hingga dua persen dari nilai total proyek.''

Puncak penghasilan seorang arsitek tercapai apabila sang arsitek itu berhasil mendirikan perusahaan kontraktor atau konsultan milik sendiri. Biasanya, arsitek yang sudah memiliki penghasilan puluhan juta rupiahlah yang menempuh jalan tersebut.

''Bagaimana tidak beralih, setiap proyek itu rata-rata bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Kalau hanya bekerja pada sebuah perusahaan konsultan atau kontraktor, dia hanya mampu memperoleh gaji maksimal Rp 5.000.000 per bulan,'' ungkap Ayi. ''Namun, kalau dia mendirikan perusahaan sendiri, penghasilannya bisa lebih dari Rp 5.000.000. Dan dalam sebulan, arsitek tersebut biasanya memperoleh dua hingga tiga proyek''.

Arsitek Jakarta | Arsitek Depok | Arsitek Bekasi | Arsitek Tangerang




Penghasilan arsitek memang sangat menggiurkan. Namun, profesi ini tak terlepas dari 'bahaya' tidak mendapatkan pesanan proyek dari klien. ''Kalau tidak ada order, para arsitek terpaksa menganggur atau banting setir mencari pekerjaan lain,'' ucap Ayi.

Kondisi mengenaskan seperti itu pernah melanda para arsitek. Yakni, pada saat bangsa ini mengalami krisis ekonomi. Sejumlah proyek terpaksa dihentikan pelaksanaannya sehingga otomatis pekerjaan arsitek terpaksa berhenti. Meski demikian, Budi menyatakan bahwa profesi arsitek sebenarnya dapat dimasuk ke berbagai jenis pekerjaan. Seorang arsitek dapat bekerja sebagai apa saja.

''Arsitek itu bertugas merancang. Jadi, selama sebuah pekerjaan itu berkaitan dengan proses merancang, maka seorang arsitek dapat masuk di dalamnya,'' ucap Budi. ''Seorang arsitek dapat menjadi pengelola weeding party karena di sana ada konsep merancang sebuah acara pernikahan''. dip

Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872

Desain Rumah Minimalis Design Interior Eksterior Jasa Renovasi Bangunan Arsitektur Moderen Gambar 3D Animasi

No comments: